Kedekatan Hubungan Guru Dengan Siswa

Partukkoan - Samosir

Oleh : Marudut Sitanggang Spd, MM
Guru SMK N 1 Harian Kabupaten Samosir

Guru memiliki peranan penting dalam pengembangan potensi setiap siswanya. Sehingga para murid dapat mandiri dan berkembang menjadi pribadi yang cerdas, baik dari sisi fisik, sosial, moral dan spiritualnya. Hubungan antara guru dan siswa bukan hanya sekedar dalam situasi proses belajar dan mengajar, namun lebih dari itu, seorang guru saat tidak melaksanakan tugasnya sebagai guru juga memiliki ikatan bathin terhadap siswanya.

Sebut saja guru yang sudah tidak lagi mengajar atau pensiun (purnabhakti) hubungan dengan mantan siswa masih tetap terjalin dengan baik. Sehingga di kalangan masyarakat, sikap ini masih ada, sikap patuh patuh pada guru atau sering disebut dalam bahasa psikologinya disebut reference group, yaitu hubungan yang baik antara mantan guru atau mantan murid masih terjalin dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kehidupan sehari-hari seorang guru akan cenderung menampilkan sikap keguruannya kepada mantan siswanya ketika bertemu setelah sekian lama tak bertemu. Walau saat bertemu konteks pertemuan si siwa bukan lagi muridnya sebagaimana dahulunya namun kasih sayang dan rasa tanggungjawab kepada murid masih tetap ada.

Demikian sebaliknya, mantan siswa itu juga walau sudah meraih kesuksesan hidup, umumnya akan tetap menghormati sang guru. Ekspresi yang diberikan murid ketika bertemu dengan mantan gurunya dapat berupa senyuman, sapaan, cium tangan, menganggukkan kepala, hingga memberi kado tertentu yang sudah pasti tidak dapat dinilai dari sisi ekonomisnya. Rasa hormat itulah yang kemudian menjadi sebuah kebangga luar biasa bagi guru, walaupun murid telah sukses dan tetap menghormati sang guru.

Rasa hormat itu tentunya bukan muncul begitu saja, akan tetapi bersumber dari sikap dan perilaku profesional yang ditunjukkan guru kepada muridnya semasa bertugas dan memberikan pelajaran kepada murid-muridnya.

Kini, banyak kita mendengar beberapa rekan guru yang mengeluh akan kurangnya sikap hormatnya murid-murid kepada gurunya. Bahkan sebelum lulus pun para murid sepertinya bersikap kurang sopan. Sesungguhnya hal ini merupakan sesuatu yang memprihatinkan, namun kita sebagai guru juga tidak serta merta menyalahkan mereka (para murid-red), akan tetapi marilah koreksi pada diri kita sebagai guru, barangkali ada kesan yang kurang baik kita tunjukkan.

Kemudian kita kembali melakukan refleksi sejauh mana hubungan kita guru dan muridnya, sehingga hubungan itu dapat kembali harmonis. Untum itu sesuai penjelasan di atas, sangat jelas bahwa kedekatan hubungan guru terhadap siswanya tidak hanya terletak pada keprofesionalan sikap namun juga ada pada konteks kulturalnya.

Untuk itu sebagai guru, penulis mengajak semua elemen (khususnya guru) terus belajar demi menjaga kode etik guru yang pada akhirnya hubungan antara guru dan murid berjalan baik sehingga kita tetap menjadi seorang guru yang dihormati dan guru sejati dihadapan murid sampai kapanpun.
loading...
Share on Google Plus

Tentang Redaksi Partukkoan

Partukkoan.com merupakan Situs Online yang dikelola untuk memberikan Informasi yang akurat dan terpercaya di sekitar Wilayah Tapanuli dan Bonapasogit, partukkoan.com adalah kompasnya orang batak.
    Facebook Comment