Pembunuh Bayaran Itu Akhirnya Divonis Hukuman Mati


Partukkoan - Jakarta

Mahkamah Agung (MA) menutup pintu maaf dan ampunan bagi pembunuh bayaran Saimuddin dengan mengirimnya ke depan regu tembak. Pria yang biasa dipanggil Udin Botak itu menghabisi nyawa pasangan suami istri Didi Hasoardi dan Anita Anggraini.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari website Mahkamah Agung (MA), Rabu (5/8/2015), kasus bermula saat Didi dan Anita hendak menjual rumah mereka di Jalan Batu Indah Raya, Batununggal, Bandung. Lantas Raga berniat dan akan membelinya secara KPR dengan menjaminkan sertifikat rumah ke bank. Namun apa daya, permohonan KPR ini tidak disetujui pihak bank.

Pada 27 Maret 2014, Raga bertemu Weda di sebuah minimarket dan menagih utang kepada Weda sebesar Rp 130 juta. Weda mengaku tidak punya uang dan Weda juga mengaku juga sedang dililit utang Rp 226 juta.

Lalu Raga dan Weda sepakat mencari jalan mencari uang dengan cara melawan hukum. Yaitu mengambil sertifikat rumah Didi untuk digadaikan. Namun syaratnya, rumah itu harus kosong sehingga Didi dan Anita harus dihabisi nyawanya. Lantas mereka berkomplot dengan merangkul Teuku untuk bergabung dengan janji akan diberi Rp 200 juta.

Sebagai persiapan pembunuhan, Weda menyiapkan sebuah penginapan di Jalan Cijagra, Bandung sebagai markas operasi pembunuhan. Mereka lalu mendatangi rumah yang dimaksud dan bertemu dengan Didi dengan mengaku-aku sebagai pegawai bank. Saat itu, Teuku sudah membawa alat kejut listrik untuk menghabisi nyawa Didi. Tetapi melihat Didi, tiba-tiba Teuku mengurungkan niatnya karena tidak tega. Mereka lalu pulang kembali ke markas.

Lantas Teuku mencari pembunuh bayaran ke Jakarta dan bertemu dengan Udin Botak dan Dedi. Keduanya dijanjikan Rp 50 juta untuk menghabisi nyawa Didi dan Anita. Atas order ini, kedua pembunuh bayaran itu langsung siap melaksanakan tugas jahat yang diberikan. Mereka kemudian meluncur ke markas di Bandung.

Setelah mereka berkumpul, kelimanya meluncur ke rumah Didi dengan mengaku sebagai pegawai bank yang akan mengukur rumah. Didi tidak curiga dan mempersilakan mereka masuk.

Saat pengukuran di lantai 2, Udin Botak membogem Didi hingga tersungkur dan langsung menyeterum leher Didi. Tidak hanya itu, Udin Botak juga menusukkan pisau ke perut Didi. Tidak sampai di situ, Dedi lalu menyelesaikan eksekusi itu dengan menggorok leher Didi hingga nyawa Didi benar-benar melayang di samping meja biliar di lantai 2.

Mendengar keributan ini, Anita langsung lari ke atas. Tapi langkahnya dihentikan Dedi dengan pukulan telak. Anita tersungkur di tangga. Dedi dan Udin Botak menusuk Anita secara bergantian hingga Anita meninggal dunia di tangga. Mayat keduanya dibungkus dengan seprei dan dimasukkan ke mobil. Mayat malang itu dibuang di Pandeglang, Banten.

Pembunuhan sadis ini lalu menggemparkan Bandung. Polisi langsung melakukan pengejaran para pelaku dan mereka berhasil digulung. Kelimanya dihadirkan ke pengadilan untuk mendapatkan hukuman yang setimpal.

Pada 15 Desember 2014, Pengadilan Negeri (PN) Bandung menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada kelima terdakwa tersebut, yaitu:

1. Raga Mulya
2. Weda Mahendra Jaya
3. Teuku Samsul Abadi
4. Saimuddin alias Udin Botak
5. Dedi Murdani alias Daniel

Hukuman ini dikuatkan oleh majelis banding. Adapun Udin Botak tidak terima dan mengajukan kasasi. Nah, di tingkat kasasi inilah hukuman Udin Botak dinaikkan menjadi hukuman mati.

Perkara Nomor 773 K/PID/2015 diadili oleh ketua majelis hakim agung Timur Manurung dengan anggota Prof Dr Gayus Lumbuun dan Dr Dudu Duswara. Vonis ini diketok pada Selasa (5/8) kemarin. (det)
loading...
Share on Google Plus

Tentang Jusri Marbun

Partukkoan.com merupakan Situs Online yang dikelola untuk memberikan Informasi yang akurat dan terpercaya di sekitar Wilayah Tapanuli dan Bonapasogit, partukkoan.com adalah kompasnya orang batak.
    Facebook Comment