Hey EO, Jangan Bermain Api (lagi)!!

Ilustrasi
Partukkoan

Jika di beberapa negara maju memiliki event atau festival tahunan yang super hebat dan heboh, negara berkembang seperti Indonesia juga tidak mau ketinggalan. Event tahunan yang digelar di negara kepulauan terbesar dunia ini dipastikan lebih beringas dan hot, karena event yang digelar adalah ‘Pesta Api’. Ya, apalagi kalau bukan event kebakaran hutan.

Seperti yang saya baca, hasil dari pantauan Satelit Modis dari NASA pada Selasa, 1 September 2015 di Sumatera ada 198 titik api (Jambi 59 titik, Lampung 3 titik, Sumatera Barat 7 titik, Sumatera Selatan 46 titik, Riau 82 titik, dan Sumatera Utara 1 titik). Belum lagi Kalimantan yang mencapai 591 titik api  (Kalimantan Tengah 131 titik, Kalimantan Timur 138 titik, Kalimantan Barat 74 titik, Kalimatan Selatan 30 titik dan Kalimantan Utara 36 titik). Hebat bukan? Apalagi event ini digelar serentak di 789 titik tersebut. Mengapa saya namakan event? Ya karena kegiatan ini digelar dengan penuh kesadaran (bukan musibah atau bencana).

Lalu yang jadi pertanyaan saya sekarang ini, apa untungnya event ‘Pesta Api” ini digelar? Selain peningkatan pesat untuk penjualan masker, saya rasa tak ada lagi untungnya event ini. Entah kenapa kita semua ‘memberi izin’ untuk penyelenggaraan event ini setiap tahunnya. Ya begitulah, setelah ada api yang menjalar dan asap yang mengepul di mana-mana, baru-lah kita heboh (lagi). Begitu setiap tahunnya.

Atas adanya event ‘Pesta Api’ ini, uang yang harus dialokasikan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pun mencapai total Rp.176 miliar. Dengan rincian, Rp.140 miliar untuk operasional Tim Mandala Bakti di daerah dan Rp 36 miliar adalah untuk operasional di pusat. Selain itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga menyiapkan dana siap pakai sebesar Rp.385 miliar untuk event ini. Jadi totalnya mencapai Rp.561 miliar. Kemudian juga, pada event ini BNPB telah menyiapkan pesawat Casa 212 serta 13 helikopter untuk melakukan pemboman air di enam wilayah tersebut dan 1500 personil per provinsi yang ‘menggelar event ‘Pesta Api’. Spektakuler!

Selain dana yang terkuras begitu besar, efeknya dari event “Pesta Api’ ini juga telah dirasakan masyarakat luas. Buktinya, Berdasarkan data dari BNPB, sejauh ini sudah terdapat 22.555 warga di Sumatera Selatan dan 1.002 warga di Riau terkena penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA).  Tidak hanya dari segi kesehatan, dari sisi ekonomi juga dipastikan akan ada dampak buruk yang tercipta. Lihat saja pada ‘Pesta Api’ 2014 lalu,  BNPB memperkirakan kerugian ekonomi yang terjadi di Sumatra mencapai angka Rp.10 triliun. Hal ini berdasarkan kerugian transportasi dan kegiatan ekonomi yang tidak bisa berjalan semestinya. Jika demikian nyatanya, maka diperkirakan ‘Pesta Api’ ini telah membuat kerugian hingga 1,5 triliun. Itu belum termasuk biaya pengobatan, kecelakaan akibat kabut asap, pendidikan yang terbengkalai (karena sekolah diliburkan) dan efek-efek lainnya. Hm, benar-benar spektakuler.

Siapa Event Organizer ‘Pesta Api’?

Pada tulisan diatas telah terlihat jelas betapa meruginya negara ini akibat ada event ‘Pesta Api’ yang di beberapa tahun terakhir telah rutin digelar setiap tahunnya. Bayangkan, sebesar Rp.1,5 triliun. Setidaknya, dana sebesar itu bisa membantu anak-anak miskin untuk bersekolah, modal usaha untuk sarjana-sarjana kreatif dan berbagai bidang lainnya untuk kemajuan Indonesia. 

Nah, sekarang yang jadi pertanyaan baru, siapa Event Organizer (EO) ‘Pesta Api’ ini? Seberapa besar keuntungan yang ia dapat dari pergelaran event di 789 titik kawasan Sumatera dan Kalimantan ini? Gaib sekali dia sehingga tidak bisa disentuh oleh pemerintah dan hukum terkait.

Dalam sudut pandang saya, hasil yang didapatkan EO dalam penyelenggaraan event ini bisa melebihi angka Rp.1,5 triliun. Saya yakin mereka profesional untuk merincikan untung rugi atas event yang mereka buat. Apalagi setelah ‘Pesta Api’ selesai, usaha mereka juga semakin pesat karena lahan telah bersih, mudah dikerjakan, bebas hama dan penyakit serta mendapatkan abu hasil pembakaran yang kaya mineral. Cocoklah untuk mengembangkan perkebunan kelapa sawit, hutan tanaman industri maupun non hutan seperti sagu.

Jadi bagaimana? Siapa EO event ‘Pesta Api’ ini? Apakah tahun depan mereka juga akan menggelar pesta yang lebih besar lagi. Biasanya event yang sukses memang demikian. Pada 2015 ada dua pulau besar yang ditunjuk sebagai tempat penyelenggaraan ‘Pesta Api’, dan mungkin saja EO juga tertarik untuk menggelar pesta serupa di Sulawesi atau Jawa. Pak Presiden, ayo dong hentikan EO event ‘Pesta Api’ ini. Oh iya, satu hal lagi yang mesti dipikirkan oleh pemerintah, bagaimana setelah api padam? Digiatkankah reboisasi atau dibiarkan saja hutan per hektarnya habis dilalap api?

Menutup tulisan ini, saya harap EO bisa mencari jalan lain yang tidak merugikan banyak orang. Kalau memang EO ingin membuat event berskala besar yang beringas dan hot, jangan bermain api. Mari bermain dengan budaya, alam nan elok dan beribu keunggulan Indonesia lainnya. Buatlah negara ini tersohor se-antero dunia dengan hal-hal spesial yang diramu dalam event bertaraf Internasional, dan jangan main api lagi hei EO!

Oleh : Wahyu Alhadi
loading...
Share on Google Plus

Tentang Redaksi Partukkoan

Partukkoan.com merupakan Situs Online yang dikelola untuk memberikan Informasi yang akurat dan terpercaya di sekitar Wilayah Tapanuli dan Bonapasogit, partukkoan.com adalah kompasnya orang batak.
    Facebook Comment