Ikan Kaca-Kaca Menjamur, Ikan Pora Pora Melebur

Ikan Kaca-Kaca/ Foto: RE Malau
Partukkoan - Samosir

Sumber Daya Alam (SDA) yang dimiliki pulau Samosir begitu besar, dan potensi yang ada menjadi alat sebagian masyarakat untuk "mengepulkan" asap bagian dapur mereka.

Sebuat saja Danau Toba, Danau kebanggan orang batak ini ternyata memiliki segudang jasa bagi warga, selai  memberikan nuansa keindahan alam, danau toba juga merupakan sumber penghasilan para nelayan dan pedagang ikan. 

Sumber Daya Alam yang dimiliki dikelola dengan baik oleh para penghuni pinggiran pantai pada umumnya. Danau Toba diyakini bisa membenahi taraf hidup masyarakat yang bermukim diseputar pinggiran Danau Toba, tergantung Sumber Daya Manusia (SDM) untuk mengelolanya. 

Sumber Daya Alam Danau Toba banyak menyimpan lapangan kerja, bahkan tidak sedikit warga menjadi sejahtera dari potensi Danau Toba, tergantung penataan Sumber Daya Manusia dalam pengelolaannya.

Beberapa tahun silam, kita sering mendengar istilah penangkap ikan dengan jaring (pardoton), baik dengan sampan atau langsung terjun masuk kedalam air, kemudian yang paling digemari kala itu adalah usaha keramba dan jaring apung (sulangat). Kehidupan para nelayan boleh dibilang lumayan saat itu, terlebih atas kehadiran ikan pora-pora yang menjadi keunggulan dan favorit para nelayan.

Ronald Simarmata salah satu warga pangururan mengaku dapat berpenghasilan antara Rp. 20.000 hingga Rp. 50.000/hari dari hasil tangkapan ikan dengan peralatan tradisional. Ronal juga bersyukur karena adanya Danau Toba di Samosir sebagai tempatnya mengayuh sesuap nasi. 

Masih menurut Ronal, dulu ketika memiliki Keramba Jaring Apung (sulangat) khusus untuk menangkap Ikan Pora Pora di danau toba, dirinya dapat menangkap ikan pora pora hingga mencapai 500 Kg/hari, Tapi setelah munculnya ikan perak (ikan kaca kaca) di danau toba, dia akhirnya "gulung tikar". sementara sebelumnya Ronal harus mengeluarkan dana sekitar 15 juta hingga 20 juta dalam menggeluti dunia usaha jaring apung atau sulangat tersebut.

Kisah pilu nelayan ini juga sebelumnya pernah terjadi. Pada tahun 1994 hingga tahun 2002 budi daya ikan mas yang di geluti masyarakat samosir mampu memberikan peningkatan taraf perekonomian penduduk khususnya para nelayan, meski rata warga juga ikut melakoni usaha keramba ikan mas saat itu. 

Akan tetapi harapan untuk berkembang lebih jauh lagi harus kandas setelah kehadiran Koi Herves Virus (KHV) yang mengakibatkan ribuan bahkan jutaan ikan mas mati dan terapung diperairan danau toba pada tahun 2005.

Meski demikian, hari demi hari harus dijalani sebagaimana mestinya, setelah kejadian itu, kerugian besar-besaran pun dialami para pengusaha keramba.

Sekitar tahun 2007 Harapan baru kemudian muncul ketika populasi ikan pora-pora muncul dan bertumbuh subur. Harapan nelayan kemudian bersinar kembali. Kemekaran para nelayan untuk meraih kesuksesan pun semakin nyata, taka kala sulangat atau jaring apunh mulai menghiasi permukaan danau toba. Dengan hasil tangkapan mencapai ratusan ton perharinya pastinya akan memberika kontrubusi atas peningkatan perekonomian para nelayan maupun warga yang mengusahai.

Ikan pora-pora selain cepat berkembang biak, murah, juga mengandung zat protein yang sangat dibutuhkan tubuh. Tak jarang daging ikan pora-pora dibuat sebagai menu khas makanan, sekaligus digunakan untuk makanan bayi dan orang sakit. Karena umumnya orang sakit akan memiliki banyak pantangan dalam makanan dan tergantung sakit yang diderita. Akan tetapi khusus ikan yang satu ini, semuanya dapat mengkonsumsi, seolah ikan ini "joker" dalam dunia makanan.

Bahkan, ikan pora-pora sebagai hasil terbesar dari Danau Toba telah tersebar ke berbagai penjuru, salah satunya Padang Sumatera Barat.

Warga Padang Sumatera Barat yang dikenal dalam olahan masakannya, mengemas ikan ini menjadi komoditi andalan. Yaitu menjadikan ikan kering (Ikan Sale) dalam kemasan setelah di asapi.

Para pengusaha, berlomba lomba memasok ikan ini keberbagai propinsi, yaitu Aceh, Pekan Baru, Padang, Palembang, hingga ke pulau Jawa. 

"Tragedi" kemudian terjadi lagi, Sekitar tahun 2013 populasi ikan pora pora menurun bahkan hampir punah setelah datangnya ikan perak (Ikan kaca-kaca) 

Bagi nelayan, Ikan ini disebut sebut sebagai salah alasan atas menghilangnya ikan pora-pora.

Walau bentuk ikan kaca-kaca kecil, tapi Ikan itu dianggap sebagai predator ikan pora-pora. Bukan hanya itu, benih ikan lainnya juga menjadi santapan ikan tersebut, baik benih mujahir, mas bahkan sampai benih ikan lele.

Rian Sinurat salah seorang pedagang ikan mengatakan bahwa ikan kaca-kaca mampu mendeteksi benih-benih ikan yang masih kecil dan memangsa benih tersebut. "Semua benih ikan yang ada di danau sepertinya dilahap semua" katanya heran.

Untuk itu Rian berharap pemerintah melakukan upaya bagaimana mengatasi perkembangan ikan kaca-kaca itu. 

"Jadi ikan kaca kaca ini harus hilang/punah agar ikan pora pora bisa kembali hidup di perairan danau toba" ketusnya.

Pemasaran dan pendistribusian ikan kaca kaca ini kata dia tidak diminati masyarakat, karena ikan ini penuh dengan tulang duri yang tajam. Hingga saat ini penjualan ikan kaca kaca hanya di jual kepada pabrik pembuatan Pakan Ikan di medan dengan harga yang relatif murah, dengan harga Rp 1.000 hingga Rp 2.000/kg.

Oleh: Rebin Malau
loading...
Share on Google Plus

Tentang Redaksi Partukkoan

Partukkoan.com merupakan Situs Online yang dikelola untuk memberikan Informasi yang akurat dan terpercaya di sekitar Wilayah Tapanuli dan Bonapasogit, partukkoan.com adalah kompasnya orang batak.
    Facebook Comment