7 Motivasi dari Para Pelajar Samosir yang Mengejutkan Hati!

Partukkoan - Samosir

“Anakkonki do hamoraon di ahu...gogo pe marsari arian dang bodari laho pasikkolahon gelengki...” Itu dia sepenggal lirik dari lagu Batak yang kerap diperdendangkan di acara pesta. Lirik yang bermakna luar biasa itu berpesan akan berharganya kita bagi orang tua sebagai anak. Sepanjang hari orang tua bekerja demi masa depan untuk anak-anaknya.

Banyak dari kita beruntung sekali menikmati pendidikan dengan mulus tanpa hambatan yang berarti. Mari melihat sisi yang menarik, para pelajar di Samosir masih banyak berkutat dengan tantangan untuk secercah ilmu yang harus mereka nikmati. Banyak alasan yang membuat mereka bertahan untuk suapan ilmu yang diberikan.

Berikut ini ada 7 motivasi yang akan mengejutkan hati kita betapa besarnya sebuah arti pendidikan bagi para pelajar di Samosir.

1. Bukit terjal pun akan kudaki demi segenggam ilmu yang membuatku lebih dari pada yang lain.

Tak ada kata yang dapat menggambarkan betapa meluapnya hati mendengar bagaimana kami para pelajar dari SD sampai dengan SMA naik turun bukit untuk menikmati pendidikan. Bangun tidur di pagi yang masih malu-malu kemudian harus langsung meluncur bersama kaki dan mata yang masih susah diajak kompromi.

Naik turun bukit mungkin bukan persoalan berat untukku, yang menjadi persoalan berat adalah ketika tiba di sekolah aku pulang dengan volume pikiran yang masih “itu-itu saja”. Ini momen yang paling membuat aku bersyukur di saat turun naik bukit banyak pelajar berlomba-lomba menaburkan mimipinya bersama terbitnya mentari.

2. Meski diterik matahari aku akan berjalan demi melahap makanan paling lezat untuk masa depanku

Ketika kulitku semakin menghitam, mengering kemudian mengelupas. Aku tak mempedulikannya tak ada waktu untuk mengoleskan lotion ke seluruh kulit tubuh. Menoleskan liur saja itu sudah lebih dari cukup. Pagi hingga sore menerima terik matahari adalah bagian dari rekreasi bersama dengan ilmu. Ini sangat memacu pikiran.
    
Ketika ada hujan lebat itu lebih berbahaya saat harus menerima terik matahari. Sekolah, menjadi tujuan utama menyantap sebanyak-banyaknya ilmu yang disampaikan padaku. Tak ada waktu untuk bersungut-sungut. Waktu yang ada adalah waktu untuk berjalan sembari berpikir “ Apa yang kudapatkan hari ini”

3.    Bataspun akan kutembus demi 100 rumus yang sudah kuhapal
 
Semangatku terlalu membara. Sangat membara.  Di manapun aku dan sejauh apapun itu. Sudah banyak yang kupersiapkan hari ini. Meski jarak yang tidak dekat bukan berarti aku harus menyerah. Jangan sampai keadaan  membuat putus asa. Keadaan membuatku sadar betapa pentingnya arti dari masa depan. Anganku berujar setiap melihat setapak demi setapak jalan “Semoga Ibu guru senang ketika aku dapat menghapal lebih dari 17 rumus”

4.    Luasnya Danau Toba akan kulewati akan ada cerita terbaru di balkon sekolah
 

Mungkin ini bagian paling kusenangi. Ada banyak kegiatan yang dilakukan para pelajar di kapal mulai dari bercengkrama, tidur, atau mengerjakan tugas yang belum selesai. Kami melakukannya sembari menunggu kapal bersandar di pelabuhan kecil dekat sekolah. Ada momen paling aku sesalkan. Ketika  buku yang dibelikan orangtuaku harus jatuh persis di danau. Tak bisa melakukan apa-apa. Kecuali pasrah dan bersabar sambil bermain dengan kekesalan. Angan memang selalu bermain, di dalam kapal aku tak sabar membaca buku di balkon sekolah tempat teduh dengan sejuta warna.

5.    Tak peduli resiko di atas bus, akan ada sensasi kebersamaan yang kudapatkan

 

Ini bukan kali pertamanya aku tidak kedapatan duduk di dalam bus. Tak apa kalau harus duduk di atas bus meski resiko yang berat yang harus kutanggung. Berangkat sekolah penuh perjuangan apalagi ketika harus pulang penuh dengan tantangan. Ini merupakan kesempatanku untuk berbagi keceriaan yang tak bisa kudapatkan dengan siapapun. Begitulah bus di sini hanya satu saja. Seadainya aku bisa menikmati bus sekolah seperti di kota? Posisiku mungkin tak setegang ini.

6. Tak kupedulikan aroma yang keluar dari seluruh badanku

Interaksi memang penting tapi ada kalanya interaksi dengan respon yang menyebalkan. Niat baik mendekati teman-teman alhasil banyak dari mereka memberikan respon non verbal yang membuatku sedikit terpojokkan. Mereka menutup hidungya. Lelah dan letih yang kualami bercampur keringat namun tak semudah itu aku harus menyerah begitu saja. Pintu selalu terbuka. Cinta selalu dibuka. Ini bukan soal penampilan dan pembawaan ini soal otak, jiwa dan hati. Siapa yang menang?

6.    Inang berpesan “Kalau bukan kau yang mengubah hidup kita siapa lagi”

Inang yang menguatkanku, memberikanku semangat bahwa mencapai segala sesuatu butuh perjuangan. Tak ada ibu yang tak mau apa yang dialaminya harus dialami lagi seperti beliau. Hidup itu terlalu keras. Bahkan teramat keras. Pesan yang sangat membekas setiap hari membuatku termotivasi “Anakkonki do hamoraon di ahu” dari sini banyak orang mulai mengerti jalan masa depan itu mulai cerah karna adanya doa ibu “Tangiang ni Dainang”

Oleh: March Hot Asi Sitanggang
loading...
Share on Google Plus

Tentang Redaksi Partukkoan

Partukkoan.com merupakan Situs Online yang dikelola untuk memberikan Informasi yang akurat dan terpercaya di sekitar Wilayah Tapanuli dan Bonapasogit, partukkoan.com adalah kompasnya orang batak.
    Facebook Comment