Sitolu Hae Horbo Raja Bius di Pangururan

Partukkoan - Samosir

Sistem Pemerintahan di Tanah Batak sebelum masuknya zaman kolonial belanda diatur oleh tatanan budaya Dalihan Natolu dengan sistem “Parbiusan”, namun seiring perkembangannya, kolonial belanda akhirnya berhasil memporak-porandakan tatanan tersebut saat melakukan penjajahan di tanah batak.

“Saat itu, pemegang tampuk kekuasaan ada pada Raja Bius, dimana setiap bius memiliki wilayah masing-masing dengan warga yang ada didalamnya yang diatur oleh sistem pemerintahan bius itu sendiri” kata Op. Pagar Parhusip (69) kepada Partukkoan beberapa waktu lalu di Nainggolan.

Diterangkannya, Kota Pangururan sebagai ibukota Kabupaten Samosir, secara khusus memiliki bius yang disebut dengan Bius Sitolu Hae Horbo (Tolu Turpuk) 12 Harajaon, Pasampulu toluhon Panuturi, diantaranya, Bius Naibaho, Bius Simbolon dan Bius Sitanggang.

Lebih lanjut, Raja Bius Sipungka Huta merupakan pendiri kampung memiliki kekuasaan tertinggi dalam  struktur organisasi pemerintahan pada masa itu. Raja Bius ata Raja Huta pada masing-masing huta (wilayahnya) telah membentuk aturan dan peraturan atau tatanan hukum dalam warganya dan dikenal dengan “Pati-patian” (undang-undang/red).

“Mar pati-patian” menurut dia, merupakan pengesahan undang-undang yang disepakati bersama masyarakat, melalui proses dari berbagai rapat kecil mulai dari tingkat sosor, huta, lumban dan luat.

“Saat itulah mereka (Raja dan Masyarakat) melakukan berbagai perumusan tatanan pemerintahan, adat dan hukum, kemudian utusan pimpinan rapat mengadakan musyawarah besar dihadapan pengetua dan pimpinan raja bius untuk merumuskan “pati patian” tersebut” terang Parhusip.

Masih kata Tokoh Masyarakat itu, Pusat kegiatan bius disebut “Parbiusan” dan menjadi tempat persidangan Raja-raja Bius. Mereka adalah pemilik “tuho” atau lebih sering disebut Partungkoan dari rumpun keluarga mereka serta sesuai dengan hikmat kebijaksanaan yang dimiliki berdasarkan kelahiran atau “Partubu”.

Apa yang menjadi keputusan Raja-raja bius adalah sah dan mutlak menjadi keputusan rumpun keluarga yang diwakilinya, Para Raja Bius yang melakukan pertemuan dan hajatan besar dari berbagai wilayah disebut  juga Horja Bius.

Tiga (3) nama struktur Penentu dalam Bius 
  1. Raja Parmalim yang berfungsi merencanakan dan menata organisasi bidang kepercayaan rakyat Bius (Religi)
  2. Raja Adat, yang berfungsi merencanakan dan menata mengenai uhum (hukum) dan paradaton (Adat)
  3. Raja Parbaringin, yang berfungsi merencanakan dan menata bidang sosial politik dan keamanan Bius. 
(redaksi)
loading...
Share on Google Plus

Tentang Redaksi Partukkoan

Partukkoan.com merupakan Situs Online yang dikelola untuk memberikan Informasi yang akurat dan terpercaya di sekitar Wilayah Tapanuli dan Bonapasogit, partukkoan.com adalah kompasnya orang batak.
    Facebook Comment