Tatanan Komunikasi Menuju“PILKADA SAMOSIR 2015”



Partukkoan - Samosir

Belajar dari hasil pengamatan serta kondisi sosial dimasyarakat Kabupaten Samosir yang dimulai dari kelompok masyarakat Petani, Nelayan, Pedagang dan Pegawai Negeri sipil, dalam rangka menyambut Pemilihan Kepala Daerah yang digelar bulan Desember 2015 yang sudah  diambang pintu dipastikan kondisi sosial ditengah masyarakat akan mengalami banyak perubahan baik sisi pola pikir, komitmen, tutur bahasa, kekerabatan bahkan aspek lain yang secara tidak langsung menyentuh lapisan masyarakat.

Beberapa perubahan tatanan tersebut antara lain:
 
1.  Perubahan Tatanan Komunikasi pada Ibadah di Gereja
 
Ibadah/kebaktian di gereja dan/atau tempat lain, belakangan ini mengalami perubahan baik dari sisi jumlah maupun komunikasi antar sesama anggota jemaat. Hal ini terjadi karena mayoritas dukungan dan pilihan nantinya dalam rangka pemilihan kepala daerah “Berbeda”. Belum lagi pimpinan/pengurus gereja berbeda dukungan/pilihan dengan para anggota jemaat, apalagi diantara anggota jemaat gereja barangkali ada yang menjadi “Tim Sukses” untuk salah satu Paslon walaupun senyogianya hal tersebut pasti bukan merupakan kewenangan mereka.

Ketika kelompok masyarakat yang kesehariannya sering duduk/diskusi bersamaan dengan teman/tetangga di suatu tempat, kemudian bermunculan pula perbedaan pendapat terkait pilihan yang kemudian menjurus kepada upaya kalimat sedikit vulgar yang sering disebut dengan “Manggarap”, padahal manggarap itu bukanlah sebuah pekerjaan yang halal kecuali dihalalkan para pihak tertentu.

2.  Perubahan Tatanan Komunikasi pada Pesta Adat.
 
Penulis menduga meningkatnya frekuensi pesta adat di Samosir tidak terlepas dari nuansa politis (pilkada), banyak penilaian yang memang belum terbukti namun mengarah kepada sebuah paksaan untuk dilaksanakan, berhubung momen perhelatan pilkada memberikan dampak yang lumayan, karena tentu dengan pesta tersebut akan menarik, paling tidak para calon untuk datang menghadiri pesta tersebut meski dari sisi komunitas belum tentu memiliki keterkaitan yang cukup dekat dengan keluarga yang berpesta.

Kemudian dengan informasi yang diterima dari masing-masing tim pemenang, atau sering disebut dengan Tim Intelizen Khusus (TIK) maka disetiap pesta saat menjelang pilkada ini tidaklah heran, jika ditemukan ragam papan bunga dari para calon, yang berbaris rapi mengiringi dan terpampang di tepi-tepi jalan. Kemudian promosi pun kembali digaungkan para TS (Tim Sukses) saat itu, demi mendulang suara yang tentunya merupakan salah satu proses teknik dalam berpolitik. Dan itulah temuan yang sering kita lihat dilapangan, meski itu sesuatu yang lumrah namun tentunya berdampak pada perubahan tatanan komunikasi dalam pesta adat.

3.  Tatanan Komunikasi Di Warung-Warung
 
Minum Kopi ataupun Tuak di warung atau kedai merupakan kebiasaan yang sulit dilupakan sebahagian lapisan masyarakat di Kabupaten Samosir karena saat ini banyak beranggapan bahwa tempat tersebut sudah dianggap sebagai tempat “Partungkoan” perkumpulan yang dapat digunakan sebagai tempat tukar informasi antar sesama walaupun sifatnya tidak resmi.

Ironisnya, Kedai-kedai baik tuak dan kopi atau apapun sebutannya kini tidak lagi menjalankan fungsinya, karena sudah berganti wujud menjadi sebuah “Posko” salah satu calon dengan harapan tempat tersebut dapat menjadi sebuah arena penjaringan.

Uniknya, kesalahpahaman pun kerap terjadi, ketika seseorang yang memang memiliki niat tulus tanpa embel-embel bersedia dan rela membayar uang kopi/ tuak di salah satu kedai banyak orang beranggapan dan menyebut dengan kata “Manggarap”. 

Sementara, dalam kultur budaya batak, hal dalam menanggulangi pembayaran di suatu kedai merupakan sesuatu yang biasa dan sering dilakukan. Namun semua berubah tak kala situasi pilkada muncul.

4.  Tatanan Komunikasi antar TS
 
Bukan teori yang mendasar tapi fakta dilapangan yang membuktikan bahwa TS bisa saja berada dalam satu rumpun keluarga bahkan satu keluarga namun berbeda pilihan, itupun sah-sah saja namun komunikasi itu tetap harus terjaga dengan baik.

Berbicara tentang dukungan, hampir 75 % para TS mengaku dan bersaksi di hadapan banyak orang, dukungannya sudah memiliki data lebih dari yang ditargetkan para Calon dengan tujuan para Calon menyebutnya “Yes”. Namun semua itu juga merupakan salah satu strategi yang dibuat untuk tetap memberikan semangat kepada kandidatnya. 

Saat ini Kata “Horas” sudah banyak orang menjadi sungkan menyebutnya dengan kata lain takut disebut pendukung salah satu Calon padahal kata tersebut lahir bukan karena Pilkada.  Kata Au do Ho ,Ho Do Au juga orang ragu menyebutnya karena tanpa disebutpun kata tsb sudah jelas satu rumpun marga “Dalihan Na Tolu”. Kata SMS juga banyak orang memberi arti berbeda dengan konseptornya sehingga sering multi tafsir. Kata Rap Ber Juang juga banyak orang memberi arti dan makna yang berbeda karena kata ajakan sering disebut “Tabo Bege On” itu saja.

Saya dan kita semua berharap Pilkada Samosir 2015 dapat menjadi media komunikasi antar sesama lapisan masyarakat Kabupaten Samosir walapun berbeda dukungan dan pilihan nantinya. Tinggalkan rasa Ego dan sejenisnya, rasa angkuh dan sejenisnya, rasa hebat dan sejenisnya serta kata lain yang setara dengan itu agar Bupati/Wakil  Bupati Samosir yang dipilih benar-benar berasal dari Hati Nurani Pemilih dan Tatanan Komunikasi Masyarakat Kabupaten Samosir tetap berjalan dengan baik.

Salam Hormat Kami Dari Media Partukkoan, selamat sukseskan Pesta Demokrasi pada Desember 2015 mendatang, Horas...Horas...Horas...
Terimakasih.
loading...
Share on Google Plus

Tentang Hatoguan Sitanggang

Partukkoan.com merupakan Situs Online yang dikelola untuk memberikan Informasi yang akurat dan terpercaya di sekitar Wilayah Tapanuli dan Bonapasogit, partukkoan.com adalah kompasnya orang batak.
    Facebook Comment