Cinta Sang Suami Kepada Istri dari Samosir

Partukkoan - Samosir

Kehidupan bagai roda pedati, kehidupan juga bagai judi. Tak tau arah dan kepastian. Kadang dikatakan baik jika baik, namun dapat juga dikatakan tidak baik jika tidak baik.

Aral melintang kan terus bergelut, merasuk ke sendi-sendi tubuh, peluh meluncur dari dahi bagai air terjun ketika mencari sebongkah berlian tuk dijual demi mencukupi kebutuhan.

Motor tua itu melaju keras bagai derap kuda diwilayah perang, dentuman air hujan yang begitu deras menghujani, tak membuat sang penunggang menjadi surut apalagi menghentikan laju motornya.

Sorot mata tajam kedepan, dibantu sedikit cahaya menembus sore menjelang malam. Pria itu sesekali mengusap pelipis mata, menghalau air yang menutupi pandangan.

Berhenti di suatu tempat, bertemu seorang pria necis, berpakaian rapi, jelas terlihat dasi melingkar di lehernya, dibalut kera jas hitam pekat mulus tak bercela menandakan pria itu orang penting.

Rentang waktu setengah jam mereka (berdua) berdialog penuh keseriusan, tawar menawar program terjadi. "Ok, gimana tawaran tadi, bisa dikerjakan lae?" tawar pria necis itu.

"Siap, saya kerjakan, kita deal. Besok semua selesai". sahut sang "penunggang kuda tua itu".

Basah kuyup, kulit mulai pucat pada tubuhnya seperti tidak berpengaruh sedikitpun baginya. Sang penunggang tetap tegar bagai diplomator sedang menyelesaikan tugasnya dalam mencapai kesepakatan.

"Itu membuat saya senang dan yakin melihat lae. Semua jadi mudah, jadi minum kopi kita dulu. Atau ganti baju le di dalam. Kebetulan ada pakaian di dalam" tutur Pengusaha Jakarta itu memuji.

"Mauliate (terimakasih), saya senang kita deal (sepakat), itu saja membuat saya semangat. Saya juga tahu bahwa bapak memang berkarakter responsive, punya karakter dan jujur" katanya menimpali.

Di tengah perbincangan mereka, denting bunyi handphone tua milik sang penunggang berbunyi. Penasaran kemudian dia melihat, ternyata sederetan kata-kata meliriknya untuk pulang ke rumah.

"leleng nai ho pa, hatop mulak da" demikian untaian kata yang terbaca pria itu. Melihat itu, gerak gerik tubuhnya masih tetap terlihat tenang. Kopi mulai didatangkan dari bilik asal asap masakan.

"Silahkan diminum le" kata pria tua namun bersahaja itu memecah keheningan malam. "Terimakasih pak" katanya menjawab. Belum sempat melanjutkan pembicaraan, alunan musik handphone pintar penunggang kuda itu berbunyi kembali.

Kali ini, sederetan kata yang digenggam jemarinya membuat pupil matanya agak membesar. Kerut kening terbikkas jelas di dahinya. 

"Hatop mulak pa, hassit hian" demikian 5 kata itu menghentakkan jiwanya. Naluri sang suami yang melekat selama 7 tahun dalam dirinya timbul bagai larva pussuk buhit. Jemari kekarnya mulai gemetar menekan tombol memanggil, sahutan dari kediamannya tak kunjung diangkat. Gundah gulana mulai menjalar dari pusaran kepala hingga hatinya.

Sang pria necis sedari tadi mengamati mulai bingung. Ada gerangan gumannya dalam hati. "Aha na masa le?, Sepertinya lae lagi panik?" sapanya bertanya dengan hati-hati.

"Maaf pak, mohon maaf sekali lagi, saya harus pulang, ada sesuatu yang terjadi di rumah, orang rumah kirim pesan sedang sakit. Saya kurang mengerti, saya hubungi ngga diangkat-angkat. Jadi saya harus pulang" tandasnya menjawab sedikit resah.

"Baiklah, cepatlah, semoga ito itu cepat sembuh ya" kata sang pengusaha kepada Si penunggang kuda.

Dengan gerak cepat sang suami (si penunggang kuda) keluar dari rumah. Diraihnya sepeda motor tuanya dengn gerak cepat, meski butiran air masih menghujani bumi, sang penunggang melaju dengan begitu keras. Arus bawah sadarnya mulai diguncang, injeksi jantung juga mulai dipompa, entah bagaimana, sepeda motornya seolah mengerti situasi tuannya. Berkali-kali geberan ban belakang dioleng masih saja tetap seimbang. 

Antara sang penunggang dan motornya mirip bagai "Marc Marquez". Ukuran kecepatan yang abnormal pun terjadi. Satu hal dalam benak sang suami, "ada apa gerangan dengan sang istri.

Tempo 38,65 menit, Tuktuk menuju pangururan akhirnya dapat dilalui, walau hampir merenggut nyawanya sendiri, si penunggang tak peduli. Lagi-lagi dia berpikir, ada apa dengan istrinya.

Sampai dirumah, bagai laskar komando pasukan angkatan darat si penunggang masuk melalui jendela, sebab dia tahu bahwa jendela tidak pernah dikunci (suatu kebiasaan pendekar malam pulang disubuh hari).

Dilirik dengan seksama, sekitar rumah, target (istrinya) belum tampak. Kedua bocah ciliknya terlihat terlelap dalam mimpi indah, namun si penunggang masih menerawang ke segala penjuru. "Dimana istriku?" tanyanya dalam hati. Semakin dia bingung, tiba-tiba terdengar lirih suara kesakitan dibalik ...

(Bersambung..)
loading...
Share on Google Plus

Tentang Redaksi Partukkoan

Partukkoan.com merupakan Situs Online yang dikelola untuk memberikan Informasi yang akurat dan terpercaya di sekitar Wilayah Tapanuli dan Bonapasogit, partukkoan.com adalah kompasnya orang batak.
    Facebook Comment