TAUHID CINTA

Ilustrasi/ Net
Partukkoan

Jika anda telah memahami judul ini, tidak mungkin dalam hati akan terkumpul dua cinta, yakni mencintai kekasih yang Mahatinggi dan cinta kepada yang lain. Keduanya merupakan hal yang saling bertentangan yang tidak mungkin dapat dipertemukan, bahkan salah satunya harus dikeluarkan dari dalam hati.

Barang siapa yang kekuatan cintanya dicurahkan kepada Sang Kekasih yang Mahatinggi dan mencintai selain-Nya adalah perbuatan batil, dan azab-Nya akan menimpanya maka ia akan mencurahkan seluruh cintanya kepada Allah saja. Jika terpaksa ia harus mencintai yang lain, maka kecintaannya itu hanya semata mengharap  ridha-Nya saja.  Atau mungkin sebagai wasilah untuk mencintainya atau bahkan untuk menyingkirkan hal-hal tersebut, karena khawatir dapat mengurangi cintanya kepada Allah.

Cinta sejati adalah cinta yang memerlukan Pengesaan terhadap yang dicintai, dan tidak mempersekutukan cintanya dengan yang lain. Jika yang dicintai itu seorang manusia, kemudian selain mencintai orang tersebut, juga mencintai yang lainnya, maka dia akan cemburu bahkan akan marah karena perlakuaannya itu. Orang yang dicintai akan selalu menjauh dan tidak mau mendekat. Bahkan dia akan menuduhnya sebagai pembohong karena cintanya bercabang, tidak utuh. Seluruh cinta itu tidak dicurahkan hanya kepadanya. Jika demikian halnya, maka bagaimana dengan mencintai Zat yang Mahatinggi dan itu tidak pantas dicurahkan kepada selain Dia. Karena setiap cinta yang dicurahkan kepada selain Dia berarti merupakan azab dan bencana bagi dirinya? Oleh karena itu, Allah swt tidak akan mengampuninya orang yang menyekutukan-Nya dalam kecintaan itu, akan tetapi Dia akan mengampuni selain itu bagi siapa saja yang Dia kehendaki. (hal. 330)

Maka, mencintai selain Allah berarti menghalangi untuk mencintai sesuatu yang lebih bermanfaat, bahkan tidak ada kebaikan, kenikmatan, serta tidak ada kehidupan yang bermanfaat baginya kecuali hanya mencintai Allah semata. Oleh karena itu, hendaknya setiap orang harus dapat memilih salah satu antara dua cinta, karena dua cinta tersebut tidak mungkin dapat dipertemukan dalam satu hati. Keduanya tidak bisa hilang dari hati secara bersamaan. Akan tetapi siapa saja yang berpaling dari mencintai Allah, mengingat-Nya, dan rindu bertemu denga Dia, maka Dia akan mengazabnya di dunia dan di akhirat. Allah memalingkan cinta orang tersebut sehingga ia mencintai salib, mencintai api, mencintai harga benda, mencintai apa saja yang sangat rendah dan hina, ketahuilah setiap manusia mau tidak mau harus menjadi budak sesuatu yang dicintai.

Oleh karena itu, barang siapa tidak menjadikan Allah sebagai Tuhan Raja, dan penlindungnya, maka nafsunya-lah yang akan menjadi tuhannya.

Kekhususan Cinta dalam Beribadah
Kekhususan dalam beribadah adalah cinta yang diikuti dengan merendahkan diri kepada orang yang dicintai. (hal. 331) Oleh karena itu, barang siapa mencintai sang kekasih dan merendahkan diri kepadanya, maka berarti ia telah menghambakan kepadanya. Bahkan, penghambaan itu merupakan puncak dari tingkatan cinta, dalam istilah lain disebut tatayyum (pemhambaan). Tingkatan cinta yang pertama adalah hubungan yang erat antara orang yang mencintai dan orang yang dicintainya. 

Tingkatan selanjutnya adalah curahan. Dinamakan demikian karena ia telah mencurahkan semua isi hatinya kepada sang kekasih.

Tingkatan berikutnya adalah cinta yang menyala-nyala. Dinamakan demikian karena cinta itu telah berpangkal pada hati sehingga sangat sulit untuk sirna. Oleh karena itu. orang yang berhutang disebut gharim karena hatinya tidak dapat lepas dari orang yang meminjaminya. (hal. 332)
 
Orang sekarang sering menggunakan kata tersebut dalam istilah cinta dan sedikit sekali ditemukan dalam syair-syair Arab. Tingkatan selanjutnya adalah cinta membara, yakni cinta yang begitu berlebihan. Oleh karena itu, Allah swt tidak mempunyai sifat semacam itu dan juga tidak dipergunakan dalam hak-Nya.
 
Kemudian tingkatan selanjutnya adalah  kerinduan, yaitu kerinduan hati terhadap  orang yang dicintai. Pemakaian istilah ini juga digunakan dalam kalimat yang ada hubungannya dengan Allah swt. (hal. 333)
 
Disebutkan dalam ashar yang lain:
“Kerinduan orang-orang yang baik itu bertemu dengan-Ku telah begitu lama dan Aku pun sangat rindu untuk bertemu dengan mereka.” (hal. 334)

Setelah Allah mengetahui akan kerinduan  para kekasih-Nya yang begitu besar untuk bertemu dengan-Nya dan hati mereka tidak tenang sebelum bertemu dengan-Nya, maka Allah menentukan dan menjanjikan waktu pertemuan-Nya dimana dengan pertemuan itu hati mereka menjadi tenang. Sungguh kehidupan yang paling menyenangkan dan penuh dengan kenikmatan secara mutlak adalah kehidupan para kekasih.  Allah yang senantiasa merindukan pertemuan dengan-Nya. Kehidupan mereka merupakan kehidupan tenteram yang hakiki. Tidak ada kehidupan hati yang lebih nyaman, lebih nikmat, dan lebih menyenangkan daripada kehidupan tersebut, yakni kehidupan yang nyaman yang disebutkan dalam firman Allah surat an-Nahl [16]:97.
 

Yang dimaksud dengan kehidupan yang baik tersebut bukan kehidupan yang dirasakan bersama-sama antara orang-orang mukmin, orang-orang kafir, orang-orang baik, dan orang-orang durhaka yang berupa nikmatnya makanan,  pakaian dan minuman, dan pernikahan, karena terkadang Allah memberikan kelebihan kehidupan tersebut yang berlipat ganda kepada musuh-musuh-Nya melebihi yang diberikan kepada para kekasih-Nya. Allah Swt menjamin kepada setiap orang yang beramal saleh akan diberikan kehidupan yang baik. Hanya Dia-lah yang Maha Menepati Janji, dan Dia tidak akan mengingkari janji-Nya. Kehidupan manakah yang lebih baik dari pada kehidupan yang cita-citanya terkumpul manjadi satu dalam naungan Allah dan hatinya tidak bercabang-cabang? Akan tetapi hatinya senantiasa dihadapkan kepada Allah, pikiran yang dulunya  terbagi-bagi kepada berbagai maslah, kini terpusatkan hanya kepada Allah saja, sehingga yang ia sebut hanyalah kekasihnya yang Mahatinggi dan selalu rindu bertemu dengan-Nya, serta merasa tenang berada di dekat-Nya. Dia-lah yang menjadi pelindungnya. Dan hanya tertuju kepada-Nyalah semua cita-cita, kehendak, dan tujuan lainnya. Jika ia diam, maka diamnya itu karena Allah, dan jika ia berbicara, pembicaraan juga karena Allah. (hal. 335). Jika ia mendengarkan, maka pendengaranya karena Allah, dan demikian pula ia melihat pun karena Allah juga. Karena Allah pula ia melakukan kekerasan. Bahkan seluruh gerakan dan aktivitas hidupnya, hanya dipersembahkan kepada Allah saja.
 
 Allah mengabarkan bahwa melaksanakan amalan wajib adalah perbuatan yang paling dicintai Allah. Amalan-amalan tersebut sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Baru setelah itu melakukan amalan-amalan sunnat. Jika seseorang telah menjadi orang yang dicintai Allah, maka kecintaan Allah yang dicurahkan kepadanya itu akan semakin bertambah banyak melebihi kecintaan-Nya yang semula. Kecintaan yang semakin besar ini akan menyebabkan hati hamba tersebut selalu sibuk untuk tidak memikirkan dan mementingkan sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan yang ia cintai.  Bahkan jiwanya akan senantiasa tertambat kepada-Nya. Sehingga sedikit pun ia tidak mempunyai kesempatan untuk memikirkan selain Allah. Karena seluruh kecintaan, kerinduan, dan seluruh hatinya dicurahkan hanya kepada Allah.
 
Tidak diragukan lagi bahwa orang yang mencintai seorang kekasih, maka ia akan mendengarkan apa yang didengar oleh kekasihnya. Jika melihat sesuatu, maka ia akan melihat seperti apa yang dilihat oleh kekasihnya. Demikian pula jika ia melakukan kekerasan dan berjalan. Dia senantiasa berada dalam hatinya, selalu bersamanya, selalu menghiburnya, dan selalu berada di sisinya. Kebesamaan di sini sungguh sangat fantastis, bukan empiris. (hal. 337)
 
Jika demikian keadaannya, maka tidak ada yang lebih dekat kepada orang yang mencintai kecuali kekasih yang dicintai. Bahkan cinta itu telah begitu melekat sehingga kekasihnya lebih dekat kepadanya daripada dirinya sendiri, sehingga orang  yang mencintai tersebut lupa akan dirinya sendiri, tetapi tidak dapat melupakan kekasihnya.
 
Di atas hanya menyebutkan pendengaran, penglihatan, mata dan kaki saja, karena anggota badan tersebut suatu perangkat untuk menemukan dan melakukan sesuatu. Pendengaran dan penglihatan merupakan sumber dari segala kehendak yang timbul dalam hati. Baik berupa kehendak untuk membenci, mencintai, maupun kehendak untuk meluapkan kemarahan.

Adapun tangan dan kaki sebagai pelaksananya. Jika pendengaran dan penglihatan seseorang telah ditujukan kepada Allah maka Allah akan senantiasa menjaga indera tersebut. Jika indera tersebut telah dijaga oleh Allah, maka Allah akan mencintainya. Kalau Allah sudah mencintai seorang hamba, maka Allah akan menjaga gerakan tangan dan kakinya. (hal. 338).

Oleh: Alfi Die/ Hendi
loading...
Share on Google Plus

Tentang Redaksi Partukkoan

Partukkoan.com merupakan Situs Online yang dikelola untuk memberikan Informasi yang akurat dan terpercaya di sekitar Wilayah Tapanuli dan Bonapasogit, partukkoan.com adalah kompasnya orang batak.
    Facebook Comment