Antara Penggusuran Kalijodo dan Penggusuran Warga Samping Rel

Lokasi penggusuran warga di bantaran rel kereta api, Elang Ujung Perumnas Mandala Medan
Partukkoan - Samosir

Catatan: Marcopolo

Penggusuran bangunan di sekitar bantaran rel kereta api sampai saat ini berlangsung lancar dan tertib. Meski sebelumnya sempat mengalami sedikit kericuhan, namun pelaksanaan hingga hari ini berjalan mulus.

Penggusuran wilayah sekitar bantaran rel kereta api ini juga tidak seheboh penggusuran yang akan terjadi di wilayah Kalijodo Jakarta.

Rencana penertiban kalijodo mewarnai semua media nasional di indonesia seolah persoalan itu menjadi masalah Nasional. Banyak pihak ikut berkomentar atas rencana penggusuran yang bakal dilakukan di wilayah yang diduga terdapat tempat-tempat lokalisasi itu.

Bahkan Menteri Sosial Khofifah Indar mencoba membantu perempuan yang mau berhenti dari Kalijodo untuk bisa disalurkan bekerja di beberapa pabrik gramen di Jawa Tengah, karena mereka berpotensi untuk bekerja di jalan yang benar.

"Kebetulan Kepala Badan Koordinasi dan Penanaman Modal baru mengoordinasikan ada pabrik garmen di Boyolali yang membutuhkan dua ribu tenaga kerja," kata Khofifah seperti dikutip dari rmoljakarta.com.

Uniknya, Menteri Sosial Republik Indonesia itu juga memberi pilihan lain kepada perempuan Kalijodo yang mau berwiraswasta dengan memberi bantuan modal kerja Rp5 juta per orang. Harga yang fantatis menurut saya.

Luar biasa perhatian pemerintah atas kejadian yang menimpa Wilayah Kalijodo, dan itu tentu menjadi apresiasi tersendiri bagi saya.

Akan tetapi hal yang berbeda dan bertolak belakang menurut pandangan saya terjadi pada warga yang terkena penggusuran di wilayah bantaran rel kereta api di Medan.

Ganti rugi pun hanya sekitaran 1,5 juta per kepala keluarga, bukan per orang. Inilah yang membuat saya sedikit miris, padahal warga sekitar rel kereta api di Medan itu juga merupakan warga negara Indonesia yang pada dasarnya memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan warga lainnya.

Sebagai putra yang besar di wilayah "DPR" (Daerah Pinggir Rel) saya pikir tidak salah jika Pemerintah juga ikut menuangkan sedikit pemikirannya atas kelanjutan warga disekitar pinggir rel. Mestinya pihak Kementerian Sosial juga ikut bersuara atas warga yang digusur tersebut.

Orang tua saya, sejak dahulu selain sebagai pedagang (par pasar pagi), ibu saya juga ikut terjun dalam bagian mengumpulkan barang barang bekas (pemulung) yang kemudian dijual untuk menghidupi dan menyekolahkan kami anak-anak mereka.

Dimana barang bekas itu disimpan dan dikumpulkan?, jelasnya di rumah bagian belakang, kemudian hal itu sekarang tidak mungkin lagi dilakukan, jangankan mengumpulkan barang bekas, untuk mendapatkan rumah kontrakan saja mungkin sangat sulit.

Lalu bagaimana pula perhatian Pemerintah? Ratusan bahkan ribuan warga rel akankah terlantar begitu saja?. Semoga pemerintah melihat situsi ini juga. 

Kami para penghuni samping rel bukanlah manusia jahat, berikanlah perhatian mu wahai Para Penguasa Nusantaraku. Sebab nenek moyang kami juga pernah ikut memperjuangkan bangsa ini.
loading...
Share on Google Plus

Tentang Redaksi Partukkoan

Partukkoan.com merupakan Situs Online yang dikelola untuk memberikan Informasi yang akurat dan terpercaya di sekitar Wilayah Tapanuli dan Bonapasogit, partukkoan.com adalah kompasnya orang batak.
    Facebook Comment