Siswa Samosir Ceritakan Kisah Dappol Siburuk dengan Tarian

Para Peserta yang terdiri dari Siswa bersama Panitia
Partukkoan - Samosir

Anak - anak Samosir melalui siswa SMA N. 1 Pangururan memperagakan kisah "Dappol Siburuk" melalui tarian dalam acara Festival Dampol Siburuk yang dilaksanakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Pusat Pengembangan dan Perlindungan di Panggung Gereja Katolik Paroki Pangururan, Sabtu (06/08/2016) lalu.

Dengan lincahnya burung menari berkicau menikmati alam menghasilkan suara merdunya, ketika para penari “DAPPOL SIBURUK” yang diperagakan anak-anak SMA Negeri 1 Pangururan yang juga aktif diberbagai sanggar seperti Sanggar Angel Alkanean, Toba ART dan Sari Uli.

Anak-anak Sanggar itu begitu lihai dan terlihat sangat mengagumkan memerankan “Dappol Siburuk” melalui gerak Tari yang diiringi dengan musik instrumen Alat Musik Batak. Nada-nada musik menggambarkan suka, duka dan mendukung alur cerita yang disampaikan.

Jonner Sianipar sebagai Koordinator Peneliti dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama timnya berjumlah 7 orang yang hadir, baik dari Balai Bahasa Jakarta dan Balai Bahasa Medan melakukan penelitian terhadap “Dappol Siburuk”. Merekapun tidak melewatkan kesempatan itu dengan mendokumentasikan setiap bagian dari cerita ini yang ditampilkan melalui tortor.

Jonner mengaku kagum akan setiap detail tari dan musik yang ditampilkan anak-anak Samosir. “Setiap Musik memiliki karakter yang kuat mendukung gerak tari anak-anak Samosir ini”, puji Jonner. 

Disinggung tentang harapan kedepan, Jonner berharap Festival Dappol Siburuk ini akan menjadi sebuah cerita rakyat melalui dokumentasi dan juga literasi yang dilakukan. "Kita berharap bahwa segera akan keluar buku cerita rakyat Dappol Siburuk yang bisa kita baca di buku-buku cerita rakyat," ucap Jonner.

Dappol Siburuk sangat banyak memberikan pesan-pesan melalui tari yang dimainkan. Dappol Siburuk mengajarkan kita untuk menghargai dan menjaga kelestarian alam kita, jangan sampai manusia menjadi perusak alam kita, tapi sebaliknya manusia yang harus menjaga kelestarian alam kita.

Marlita Simbolon pengasuh Sanggar Angle Elkanean mengatakan bahwa Tarian Dappol Siburuk juga mengajarkan kita sebagai orang tua sungguh-sungguh menjaga, merawat dan mendidik anak dengan sangat baik dan penuh kasih sayang. 

“Kesehatan anak sangat bergantung keseriusan orang tua dalam merawat mereka, seperti induk burung terus berjuang mengurus sayap anaknya yang luka,” jelas Marlita sembari menggambarkan gerak dan musik yang dipadukan.
Peserta
Dappol Siburuk bercerita tentang seekor burung yang patah sayapnya akibat ulah manusia sehingga mengakitbatkan burung tersebut tidak dapat terbang seperti biasanya. Hal ini membuat kesedihan besar bagi induknya. Dengan segala upaya induknya berusaha menyembuhkan luka burung. Dengan balutan daun-daun obat dan juga kasih sayang serta perawatan induk akhirnya burung tersebut sembuh dan sehat kembali serta bisa terbang kembali. 

Makna lain dari Dappol Siburuk juga mengajak kita untuk melestarikan tanaman obat di sekitar kita. Hal inilah yang dimanfaatkan jauh sebelum dunia medis berkembang oleh para generasi-generasi sebelum kita dan tentunya sangat ampuh. Diharapkan kelak buku atau dokumentasi “Dappol Siburuk” dapat beredar dan bisa dibaca atau ketahui melalui upaya Revitalisasi Sastra Berbasis Komunitas yang dilaksanakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Pusat Pengembangan dan Perlindungan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (Harmoko Sinaga, S.Hut)
loading...
Share on Google Plus

Tentang Redaksi Partukkoan

Partukkoan.com merupakan Situs Online yang dikelola untuk memberikan Informasi yang akurat dan terpercaya di sekitar Wilayah Tapanuli dan Bonapasogit, partukkoan.com adalah kompasnya orang batak.
    Facebook Comment