Bagaimana Mengatasi Terorisme?

Partukkoan

Kasus teror bum bunuh diri di Gereja Katolik Stasi Santo Yosep Medan, Sumatera Utara baru-baru ini kembali membuat geger masyarakat. Pasalnya masyarakat berpikir bahwa penjagaan yang lebih ketat yang digalangkan oleh BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) diharapkan telah berhasil menuntaskan permasalah teror yang terus mengguncang tanah air. Namun nyatanya masih ada saja pelaku lain yang berhasil "dipinang" untuk menjadi pelaku teror. Dan kali ini adalah remaja berusia 17 tahun asal Medan. Segala cara sudah dilakukan untuk mengatasi masalah terorisme, namun tetap masih saja terjadi, lantas bagaimana jalan terbaik yang harus kita pakai untuk mengatasi terorisme?
Ilustrasi | net
Deradikalisasi Terorisme
Proses penanggulangan terorisme memang membutuhkan waktu yang panjang. Kita perlu berusaha secara sabar dan terus menerus agar dapat mengatasi permasalah teror yang silih berganti terjadi di tanah air. Satu harapan kita bahwa penanganan terorisme harus dilakukan dalam cara yang tetap manusiawi yaitu menjunjung tinggi martabat manusia bukan dengan cara penghabisan.
Menurut Hannah Arendt, politik sebagai kebersamaan  yang saling mengait dalam kebhinekaan. Perbedaan-perbedaan yang terdapat dalam masyarakat memampukan masyarakat untuk bertindak agar mampu memahami masyarakat lain. Dengan bertindak masyarakat berusaha untuk membangun relasi bersama masyarakat lain. Dan relasi itu hanya mampu diungkapkan dalam komunikasi. Dalam komunikasi perlu ruang publik yang berdayaguna bagi terjalinnya komunikasi. 
Komunikasi untuk membangun relasi yang lebih akrab dengan satu sama lain adalah cara yang mesti dibangun oleh kita semua agar mampu menciptakan pesaudaraan dalam menjunjung tinggi nilai penghargaan terhadap manusia. Banyaknya kasus teror disinyalir sebagai gagalnya proses komunikasi yang harus dibangun oleh setiap komponen masyarakat terhadap masyarakat lain sebagai akibat dari modernisasi yang menciptakan sikap ego dan ingat diri. Hal itu berujung pada perasaan kesepian yang dialami oleh masyarakat lain sehingga dengan itu masyarakat yang kesepian mencari sesamanya dan membangun kelompok. Dalam keadaan merasa ditinggalkan dan kesepian, setiap ideologi palsu yang masuk lewat propaganda dapat membutakan sekaligus menumpulkan pikiran mereka. Dengan demikian mereka dengan cepat menerima pinangan para pelaku kejahatan untuk menjadi pelaku teror. Sebab teroris itu adalah manusia yang sudah salah paham dan memang memiliki pemahaman yang salah.
 
Kerana itu, BNPT telah mencanangkan untuk melakukan penanganan terorisme dengan cara soft power dan hard power. Model penanganan ini sejatinya sudah ideal karena mempertimbangkan dan menyeimbangkan antara ketegasan dan kelembutan atau mengahargai nilai kemanusian. Pedekatan semacam ini dinamakan pendekatan ‘deradikalisasi’ yaitu mencoba membangun dialog atau mencoba menyadarkan para pelaku teror mulai dari pelaku itu sendiri, keluarga dan kerabat. Meskipun dengan cara itu ada juga yang merasa cemas dan takut sebab jalan ini juga bisa menjadi celah bagi para pelaku untuk terus melakukan aksi mereka.
Menangani teroris memang tak perlu harus menggunakan teori yang rumit atau membingungkan. Adanya teori malah akan semakin memperparah. Yang terpenting sekarang ini adalah membangun dialog dengan para pelaku kejahatan itu. Pedekatan dengan para pelaku kejahatan itu dapat dijalankan lewat para pelaku yang telah tertangkap. Awalnya dimulai dari lapas kemudian mencari jaringan lain dari informasi yang ada.
Said Aqil Siroj dalam opininya pada Kompas edisi Sabtu 3 September 2016 mengulas secara mendalam tentang proses penanggulangan terorisme lewat jalan deradikalisasi. Menurutnya, program deradikalisasi itu harus menyasar pada pelaku terorisme, keluarga, dan kerabat dekat dan juga jaringannya. Tujuannya adalah mendeteksi secara lebih dini dan pencegahan ideologi radikalisme dapat dilakukan secara lebih efektif. Dengan demikian pendekatan ini dapat memutus mata rantai kekerasan yang dapat tumbuh pada lingkar luar pelaku teroris itu yakni keluarga dan kerabat.
Lebih jauh, deradikalisasi dapat menjadi penyeimbang bagi proses penanganan dengan jalur pendekatan militer yang bisa saja menumbuhkan rasa benci yang semakin parah dalam diri para pelaku teror lain terhadap pemerintah dan juga aparat keamanan. Deradikalisasi yang dilakukan di luar lapas bisa diwali dengan mendatangi rumah mantan napi atau mantan pelaku teror dengan maksud mengorek informasi tentang jaringan atau orang-orang lain. Pedekatan ini dilakukan dengan dialog keagamaan dan silahturahmi. Selanjutnya untuk para pelaku yang telah tertangkap atau mantan pelaku diberikan pelatihan kewirausahaan dan kegiatan kebangsaan untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air sekaligus bersama mereka mencari para pelaku yang lain dalam membuka informasi yang tertutup. Dengan cara ini secara perlahan namun pasti permasalahan teroris yang terjadi di tanah air dapat teratasi dan kita sebagai masyarakat dapat hidup dengan aman.

Pendekatan Diferensiasi
Di sisi lain saya berpendapat bahwa penanganan terorisme tidak harus selalu dilakukan oleh aparat intelijen dan kepolisian. Hemat saya masyarakat luas pun harus mengambil bagian dalam penuntasan masalah terorisme yang terjadi saat ini sebab teroris itu sendiri lebih banyak berasal dari masyarakat sehingga masyrakat yang sehari-hari hidup dan beriteraksi pun harus mengambil bagian dalam penganganan teroris. Lantas apa yang mesti dilakukan?
Penanganan terorisme yang dilakukan oleh masyarakat dapat dilakukan dengan pedekatan ‘diferensasi’. Pedekatan diferensiasi menyatakan bahwa setiap manusia memiliki kesamaan yang harus dihormati dan mendapat pengakuan. Pendekatan diferensiasi menuntut kita untuk mengakui dan menghormati perbedaan yang ada dalam diri masing-masing pribadi (Otto Gusti, 2011: 12). Pendekatan diferensiasi dilakukan dalam ruang lingkup masyarakat yang hidup dalam multikulturalisme. Mengapa tidak dalam kerangka pluralisme? Sebab bagi saya pluralisme menjadi salah satu faktor pula yang menyebabkan terjadi banyak kasus kekerasan. Hal itu berdasar bahwa masyarakat plural terkesan hidup dalam entitasnya sendiri dan tidak memperhatikan yang lain meskipun hidup dalam keberagaman. Sehingga kecendrungan bagi kaum mayoritas untuk menindas kaum minoritas dengan aturan tak bisa terelakan.

Sementara bagi masyarakat yang multikurtural elemen-elemen yang plural dan berbeda saling berkomunikasi dan berdialog secara intens untuk membangun dan mengenal kekhasan dan perbedaan masing-masing. Inilah mengapa saya menganjurkan membangun pendekatan diferesiasi yang multikultural. Dengan demikian ketika kita membangun pendekatan diferensiasi kita perlu menyasar pada semua orang tanpa terkecuali, membangun dialog yang nyaman serta akrab dan mencoba menjalin dialog emosional dengan orang lain agar kita mampu memahami pribadi orang lain. Seharusnya sikap egoisme, sombong, menutup diri, dan ingat diri harus kita tanggalkan untuk membangun relasi yang akrab dengan sesama kita yang berbeda.
Hendaknya juga pendekatan ini kita ajarkan untuk anak-anak muda, agar mereka pun dapat balajar membangun relasi diferensiasi dengan sesama. Sebab selama ini banyak kaum muda yang cepat terpinang oleh propaganda serta paham ideologi yang salah. Kita juga perlu menyadarkan dan mendampingi kaum muda kita agar mereka dapat menerima, mengakui serta menghargai keberagaman yang ada dalam bangsa kita ini. 
Kemudiam kedua pendekatan di atas dapat menjadi jalan terbaik bagi kita untuk mengatasi permasalahan terorisme. Sekarang yang mesti kita lakukan adalah mulai bergerak membangun dialog dengan sesama kita. Semoga! 

Oleh: Inosensius Enryco Mokos
Mahasiswa STFK Ledalero
loading...
Share on Google Plus

Tentang Redaksi Partukkoan

Partukkoan.com merupakan Situs Online yang dikelola untuk memberikan Informasi yang akurat dan terpercaya di sekitar Wilayah Tapanuli dan Bonapasogit, partukkoan.com adalah kompasnya orang batak.
    Facebook Comment