Mahasiswi Asal Samosir Ikuti Workshop Sustainable Business Di Bangkok

Foto | Facebook
Partukkoan - Samosir

Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), sudah memasuki gerbang keterbukaan lintas negara Asean. Tiap-tiap negara yang berperan, diharapkan kesiapannya dalam mengikuti keterbukaan tersebut. Untuk mendukung kebijakan pemerintah tersebut, tentunya dibutuhkan banyak hal, satu diantaranya dituntut keterpenuhan sumber daya manusianya.

Beberapa dekade sebelum kebijakan tersebut didengungkan, pemerintah Indonesia, melalui lembaga-lembaga terkait, telah berupaya agar Indonesia benar-benar siap untuk menyambut datangnya MEA. Dengan harapan Indonesia mampu mengikuti dan menjadi pelaku dalam kebijakan tersebut.

Mahasiswi asal Pangururan-Samosir, Perianda Habeahan (Mahasiswi S-1 Hubungan Internasional Universitas Diponegoro 2013), putri dari Mangoloi Habeahan (Alm)/ Maimunah Br. Sitorus, adalah salah seorang yang beruntung, karena lulus seleksi mengikuti program Food Challenges Orange Asean yang diadakan selama 3 minggu (20 Juni – 08 Juli) di Kedutaan Besar Belanda di Bangkok.

Orange Asean merupakan workshop yang diselenggarakan oleh Pemerintah Belanda yang bekerjasama dengan sektor swasta dan non-governmental partners yang menghubungkan kewirausahaan Belanda dan ASEAN untuk mengakselarasikan inovasi bisnis berkelanjutan.

Adapun workshop edisi kedua Orange Asean ini, diikuti sebanyak 30 orang peserta, yakni mahasiswa dari latar belakang pendidikan berbeda-beda, professional muda asal Belanda dan Asia Tenggara, serta konsultan bisnis dari Belanda. 

Agenda Acara

Minggu pertama, koordinator Orange Asean (Jesse Arnon dan Bertus Tulleners-- konsultan bisnis asal Belanda), membagi semua peserta ke dalam enam kelompok, dimana masing-masing kelompok berupaya memahami tantangan/masalah dari klien bisnis terkait food sustainability dan berupaya untuk mendisain solusi inovatif di bidang pangan. 

Adapun tantangan yang dihadapi setiap klien bisnis dari perusahaan-perusahan penyedia makanan di Thailand, tidak terlepas dari problem perubahan iklim, urbanisasi, dan populasi yang kian meningkat pada saat ini—masalah yang juga sedang dihadapi Indonesia saat ini.

“Klien bisnis saya selama mengikuti workshop di Thailand adalah perusahaan Friesland Campina. Friesland Campina merupakan salah satu dari lima perusahaan susu terbesar di dunia, yang dimiliki sepenuhnya oleh Zuivel Cooperatie Friesland Campina U.A di Belanda. Friesland Campina memasok produk seperti minuman berbahan dasar susu, keju, makanan penutup, dan nutrisi bayi di banyak Negara Eropa, Asia dan Afrika," tutur Perianda Habeahan.

Tantangan utama untuk tim saya lanjutnya, ialah 'KAWAII’; yaitu berupaya untuk memberikan solusi supaya peternak sapi perah yang ada di Thailand dapat meminimalkan serta mengelola ‘limbah ternak’ mereka dengan baik, dalam mencegah masalah lingkungan. 

"Dengan solusi inovatif yang diberikan oleh tim saya, diharapkan perusahaan Friesland Campina yang ada di Thailand, dapat memproduksi produk susu yang aman serta terjaga kualitasnya, dan output solusi sustainable business ini juga dapat berkesinambungan dimasa yang akan datang," terang wanita lulusan SMA N 1 Pangururan tersebut.

Dia menambahkan, setiap Minggu, tiap perwakilan tim mempresentasikan progress kerja mereka di depan seluruh peserta dan staff kedutaan Besar Belanda. Diadakan juga sesi Tanya-jawab untuk seluruh tim serta evaluasi dari konsultan bisnis asal Belanda. Hingga minggu ketiga, masing-masing tim mempresentasikan solusi hasil akhir mereka di depan seluruh klien bisnis yang hadir. Seperti klien bisnis dari Wetland International, Friesland Campina, Agri Pro Focus, CPF Thailand, Duta Besar Belanda, serta tamu undangan lainnya. 

Menurutnya, seluruh tamu undangan yang hadir saat itu sangat antusias mengikuti acara dengan mengajukan berbagai pertanyaan kepada masing-masing tim di sesi Tanya-jawab.

Peri menjelaskan, bahwa program itu sangat bermanfaat untuk Mahasiswa/i Indonesia, khususnya dalam memahami pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Developments. Dengan demikian, setiap pemuda/i yang ingin berkecimpung di dunia wirausaha, dapat mempertimbangkan aspek lingkungan, disamping menghasilkan keuntungan.

“Saya sangat bersyukur dapat diberikan kesempatan menjadi salah seorang peserta dari program Orange Asean ini. Ke 26 peserta yang terpilih benar-benar sangat berbakat dan memiliki soft skill yang berdaya saing," katanya.

Pengalaman yang tidak terlupakan untuknya adalah dapat bekerja dalam tim. Dirinya merupakan satu-satunya anggota yang masih kuliah di semester enam, dan ketiga anggota tim lainnya sudah bergelar Master dan PhD. 

Atas program tersebut, Peri mengaku mendapat kesempatan dalam meningkatkan kemampuan berbahasa inggris, selain itu, kesempatan baik itu juga digunakannya untuk mempromosikan keindahan Pulau Samosir. 

Oleh: Suriono Brandoi SiringoRingo
loading...
Share on Google Plus

Tentang Redaksi Partukkoan

Partukkoan.com merupakan Situs Online yang dikelola untuk memberikan Informasi yang akurat dan terpercaya di sekitar Wilayah Tapanuli dan Bonapasogit, partukkoan.com adalah kompasnya orang batak.
    Facebook Comment