Kota Medan Kini, Antara Rampok, Begal Hingga Manusia Tanpa Empati

Ilustrasi
Partukkoan - Medan

Ngeri sekarang, makanya harus hati hati dan waspada,"ujar seorang petugas polisi bertubuh gempal di Mapolsek Medan Baru kawasan Medan Petisah pada Sabtu 1 Oktober kemarin, sesaat menerima pengaduan kasus begal yang dialami adik kandung saya sekitar pukul 14.00 wib sabtu itu.

Adik kandung saya bernama Utari Violita Sianturi. Perempuan berusia 22 tahun, merupakan salah satukorban kebringasan dan kebiadapan begal dan rampok yang saat ini sangat marak di Kota Medan.Tas sandang miliknya dirampas dan ia sempat diseret seret setelah akhirnya satu tendangan kaki kiri nan kuat dari seorang pelaku mengenai bagian perutnya dan menghentikan upayanya mempertahankan tas dan seluruh isinya.Akibat tendangan dari pelaku, Ia tercampak hingga akhirnya berlumuran tanah becek dipinggir jalan. 

Jalanan yang baru saja tergenang air akibat hujan menjadi saksi bisu pada Sabtu `1 Oktober lalu sekitar pukul 06.00 wib.Kejadian memilukan ini sendiri terjadi di Jalan Jamin Ginting, Padang Bulan Pasar II Medan Baru. 

Korban yang hendak menunggu angkutan kota (angkot) berdiri sendiri kemudian didekati dua orang pelaku begal menggunakan sepeda motor merek Yamaha Vixion.Tanpa basa basi, kedua pelaku yang diakuinya berperawakan kurus dan hitam ini serta menutup setengah wajahnya menggunakan sarung tangan melakukan aksinya kepada adik saya Utari.

Jeritan kuat minta tolong di pagi itu tidak membuat warga datang. Warga sekitar seolah olah sudah biasa mendengar jeritan minta tolong dan terbiasa melihat korban dirampok dan dibegal. Meski, adik saya masih terpental dan dilumuri lumpur dijalanan, warga tidak kunjung datang berempati. Terlalu. Bahkan, beberapa warga yang melintas, terlihat membiarkannya hingga akhirnya satu jam berikutnya ada teman semasa SMAnya yang melihatnya, kemudian selanjutnya mengantarnya untuk tetap mengikut ujian.

Beberapa jam setelah mengetahuinya, bercampur emosi dan cemas, saya pribadi pun menemuinya dan menguatkannya serta membawanya ke Polsek Medan Baru untuk menyampaikan pengaduan. Awalnya, beberapa keluarga sangat pesimis dan tidak terlalu greget saat saya memilih melaporkannya ke polisi. 

Entah apa penyebabnya, tapi saya memaknai alasan keluarga, karena kurangnya ketegasan aparat kepolisian dalam mengayomi warganya serta memberikan hukuman yang berat kepada pelaku begal. Korban sendiri sudah pasrah atas kejadiannya yang menimpanya. 

Dan, kami keluarga tetap berharap, masih ada tersimpan polisi yang kuat dan bersemangat dalam memburu para pelaku begal yang sudah sangat meresahkan di Kota Medan ini. 

Motto melindungi dan mengayomi jangan hanya simbol belaka, namun harus diaplikasikan dalam praktek nyata. Masyarakat Kota Medan butuh suasana nyaman dan bebas dari pelaku kejahatan jalanan atau aksi aksi begal. Medan juga merupakan ibukota Sumutera Utara, sebagai parameter pertumpuhan daerah ini yang menjadi pusat perhatian secara nasional.Sebab, kami berharap, Medan masih menjadi rumah kita yang aman dan nyaman. Polisi kamu bisa..

Oleh: Franzul Sianturi
loading...
Share on Google Plus

Tentang Redaksi Partukkoan

Partukkoan.com merupakan Situs Online yang dikelola untuk memberikan Informasi yang akurat dan terpercaya di sekitar Wilayah Tapanuli dan Bonapasogit, partukkoan.com adalah kompasnya orang batak.
    Facebook Comment