Sidang Lakalantas di Parbaba, Keluarga Korban Kecewa Sikap Pengusaha

Proses persidangan lakalantas di tikungan jalan menuju perkantoran parbaba di ruang sidang Pengadilan Negeri Pangururan, Kamis (01/12/2016)
Partukkoan - Samosir 

Sidang kasus kecelakaan lalu lintas (lakalantas) yang merenggut nyawa Hendrik Antonius Tambunan (33) di tikungan Jalan Parbaba menuju perkantoran digelar di ruang Pengadilan Negeri Pangururan, Kamis (01/12/2016).

Sidang ini merupakan sidang pertama dalam kasus lakalantas tersebut dan dipimpin Hakim Ketua Syafril P. Batubara, S.H, M.H yang didampingi Hakim Anggota Christoffel Harianja, S.H dan Azhary P. Ginting, S.H.

Dalam sidang terungkap kronologi kejadian kecelakaan yang merenggut nyawa Hendrik dan membuat cacat adik iparnya Desi EY Sitepu dimana pada saat kejadian dibonceng korban.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Abdul Hakim Sori Muda Harahap, SH dihadapan para hakim meminta kepada saksi Mayerni Sitepu dari pihak korban untuk menjelaskan kronologi, bagaimana pihak korban mengetahui kejadian.

"Jadi pada saat itu anda (saksi) menerima telepon dari siapa," tanya Abdul Hakim kepada saksi.

Maryeni Sitepu istri korban dalam kesaksiannya mengatakan tidak mengenal siapa yang menelepon. Dia menerangkan, kabar pertama kecelakaan itu diterimanya dari ibunya. "Saya tidak kenal, tapi ibu kemudian menelepon dan adik laki-laki saya yang mengangkat panggilan itu. Dari situlah awalnya saya tahu kejadian kecelakaan yang menimpa suami dan adik saya," kata Maryeni.

Lebih lanjut, Meryeni menyebutkan, korban dilihatnya ketika berada di Rumah Sakit Hadrianus Sinaga. Di rumah sakit suaminya ditemukan sudah meninggal dunia, sementara adiknya mengalami luka serius sehingga harus dirujuk ke Medan.

Dihadapan hakim, Maryeni mengaku kecewa atas sikap terdakwa dan pengusaha UD "L". Pasalnya setelah kejadian itu, terdakwa dan pengusaha sepertinya tidak mau bertanggungjawab, bahkan seperti tidak peduli atas musibah kecelakaan itu.

"Awalnya sebenarnya sudah ada pembicaraan perdamaian dan kesepakatan pada tanggal 13 Agustus kemarin. Bahkan mereka sudah janji untuk memberikan biaya pengobatan bagi korban. Tapi sampai sekarang tidak terlihat niat mereka. Mereka ingkar," katanya.

Dalam persidangan, terdakwa JG (21) mengakui bahwa dirinya merupakan supir dalam truk cold diesel yang kontra dengan sepeda motor korban. Dalam keterangannya, dia menyebutkan korban menabrak bagian belakang truk yang dibawanya. Dia juga mengaku tidak memiliki SIM saat mengendarai truk tersebut.

Sementara itu JG mengaku, dirinya tidak mengetahui adanya uang perdamaian yang dijanjikan oleh perusahaan kepada korban. "Kalau tentang perdamaian, saya tidak tahu yang mulia," kata JG

Usai mendengar semua keterangan, Hakim Syafril P. Batubara, S.H, M.H mengatakan Persidangan akan dilanjutkan dengan agenda penuntutan kepada terdakwa. "Sidang dengan acara tuntutan akan dilanjutkan lagi pada tanggal 6 Desember mendatang," kata Syafril.

Sebelumnya, mertua korban, N. Erni Br. Sitanggang (57) kepada wartawan menuturkan, Korban Hendrik Antonius Tambunan (33) adalah suami dari Mayerni Sitepu itu bersama adik iparnya Desi Eka Yana Sitepu berboncengan bertujuan untuk mengurus KTP Desi.

Namun naas, mereka berdua mengalami kecelakaan di jalan tikungan menuju parbaba hingga mengakibatkan Hendrik meninggal dunia. (P-02)
loading...
Share on Google Plus

Tentang Redaksi Partukkoan

Partukkoan.com merupakan Situs Online yang dikelola untuk memberikan Informasi yang akurat dan terpercaya di sekitar Wilayah Tapanuli dan Bonapasogit, partukkoan.com adalah kompasnya orang batak.
    Facebook Comment