Perjuangan Cinta Dua Sejoli Beda Keyakinan

Partukkoan - Samosir

Aku adalah seorang pemuda yang tinggal di Pulau Samosir. Layaknya seperti anak lainnya, aku juga mengecap pendidikan, namun hanya sampai ke jenjang Sekolah Menengah Atas. Ya itupun sangatlah aku syukuri, mengingat pekerjaan kedua orang tuaku hanyalah seorang petani.

Aku bermarga Sitanggang, dan hidup di ibukota Samosir yaitu Pangururan. Dulunya Samosir itu masih bersatu dengan Kabupaten Tobasa. Samosir waktu itu belum seperti saat ini. Aku bilang, ya masih asri, masih asli, masih sejuk dan penuh keharmonisan secara khusus dalam adat budayanya.

Tamat SMA, niat untuk mencari pekerjaan menjadi hal yang utama bagiku. Ntahlah.. mungkin itu salah satu sifat orang batak, ingin mandiri dan mencari jati diri. 

Niat itupun kulanjutkan dengan penuh semangat. Aku melangkahkan kaki sesuai dengan kata hati. Tanpa tujuan pasti namun percaya pada naluri.

Kunaiki saja angkutan menuju medan, sampai di Kota Medan, lalu naik angkutan yang memang aku tak ingat kemana tujuannya. Hingga akhirnya aku tersadar bahwa aku menuju Kota Padang Sumatera Barat.

Tahun 1993 saya mendaratkan kaki saya di Kota Padang. Kota dimana aku sendiri tak pernah menjalaninya. Terlunta-lunta menjadi awal perjalanan pahitku. Dengan modal tipis aku harus berjuang meski hati kadang meringis.

Padang yang dikenal dengan Kota Tercinta ini menjadi tempatku meraih cinta. Di sini, dengan segala kekurangan aku dipertemukan dengan gadis minang yang baik hatinya. 

Meski beda keyakinan dengannya, dia sebut saja namanya Bulan warga padang itu mengasihiku sepenuh jiwa. Hingga, dua tahun tinggal di sana, akupun menikah dengannya pada tanggal 8 Agustus 1995.

Terhitung hingga kini, umur mahligai rumah tanggaku dengannya sudah mencapai umur 22 tahun. Tuhan juga melimpahkan berkat bagiku dan dia dengan dikaruniakan anak sebanyak 5 orang diantaranya 3 lelaki dan 2 perempuan.

Pagi ini aku merenung, mengingat itu. Sampai hayalanku pada sebuah lagu. Itu, lagu dari malaysia, lagu yang sering kulantunkan. Lagu suci dalam debu yang tak pernah asing bagiku. Lagu pejuanganku, dan mungkin perjuangan oleh orang lain yang kerap mendapat sindir dan ketir.

Cinta bukan hanya dimata, cinta hadir dalam jiwa sepenggal syair lagu itu akan mengingatkan pada bulan istriku. Terlebih, jika ada cecok diantara kami. Teringat wanita itu, yang rela "kabur" meninggalkan segalanya demi aku sang pemuda tanpa pahala. 

"Seharusnya aku memang tak layak bersanding denganmu ma," gumanku dalam hati sambil menyeka air mataku pagi itu. 

Butiran air mata mengalir, membuat bulu kudukku berdesir. Ntahlah, memang semuanya harus ku ubah. Aku harus berubah lebih baik lagi. Bukan saja hanya untuknya, tapi juga untuk anak-anaku.

Dunia malam bukan barang baru bagiku, dunia kelam juga kerap disisku. Dari situ, perseteruan tanpa tepi terjadi antara aku dan kekasihku.
loading...
Share on Google Plus

Tentang Redaksi Partukkoan

Partukkoan.com merupakan Situs Online yang dikelola untuk memberikan Informasi yang akurat dan terpercaya di sekitar Wilayah Tapanuli dan Bonapasogit, partukkoan.com adalah kompasnya orang batak.
    Facebook Comment