Ini Penyebab Nilai Tukar Uang Beberapa Negara Melemah

Screenshot nilai tukar rupiah terhadap dollar dari google, Jumat (31/08/2018) dan akan terus berubah ubah
Partukkoan - Medan

Saat ini nilai tukar rupiah semakin melemah, nilainya cukup fantastis yakni Rp. 14.825 per dollar amerika serikat. Meski demikian, ternyata bukan hanya nilai tukar rupiah saja yang melemah, beberapa negara lainnya juga turut ikut melemah terhadap mata uang dollar Amerika Serikat.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara mengatakan bahwa nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan terhadap dolar AS. Namun tekanan itu tak hanya dialami oleh rupiah saja.

"Sebenarnya di dunia ini yang melemah bukan cuma rupiah. Swedish crown juga melemah 10 persen, dolar Australia juga melemah 6 persen. Jadi di seluruh dunia melemah terhadap dolar AS," katanya di Singapura, Jumat (31/8/2018).

Menurutnya, ada dua penyebab utama yang membuat nilai tukar di seluruh dunia melemah terhadap dolar AS. Yakni, penyebab pertama ialah kenaikan suku bunga yang dilakukan oleh Bank Sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed).

Kenaikan ini mengakibatkan dana-dana yang tadinya parkir di negara berkembang seperti Indonesia pulang kembali ke tempat asal. Akibatnya, pasokan dolar AS di RI berkurang.

Penyebab kedua ialah adanya strategi ekonomi yang dijalankan oleh Presiden AS Donald Trump. Berbagai macam perang dagang yang dijalankan oleh AS membuat investor mencari instrumen investasi yang akan yaitu dolar AS.

Dikatakannya, pelemahan rupiah ini tidak perlu ditakutkan karena stabilitas ekonomi dan keuangan bisa terjaga dengan baik.

"Likuiditas terjaga baik, non performing loan (NPL) di perbankan Indonesia bahkan menurun dibandingkan 2015 dari 3,2 persen menjadi 2,7 persen." ucap Mirza.

Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), Jumat (31/8/2018), rupiah berada di posisi 14.711 per dolar AS atau susut 0,38 persen pada 31 Agustus 2018 dari posisi 30 Agustus 2018 di kisaran 14.655 per dolar AS.

Sementara itu, Head of Indonesia Equity Research Citigroup Securities Indonesia, Ferry Wong menyebutkan, nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat dipengaruhi faktor global terutama Argentina. Krisis ekonomi Argentina mempengaruhi negara berkembang. Akan tetapi, kondisi ekonomi Indonesia lebih baik ketimbang Argentina.

Sedangkan dari internal, defisit transaksi berjalan juga turut mempengaruhi. Indonesia catatkan defisit transaksi berjalan sekitar tiga persen pada kuartal II 2018. Ferry memperkirakan rupiah masih akan tertekan hingga akhir tahun.

"Karena faktor Argentina mulai kena lagi dan current account defisit bukan hal yang baru dan masih akan menekan hingga akhir tahun. Semua negara emerging market tertekan juga jadi cuma ikiti perlahan dari negara lain," kantanya.

Pemerintah kata dia, sudah melakukan hal yang perlu dilakukan untuk stabilkan nilai tukar rupiah yaitu dengan penerapan biodiesel 20 persen dan mengendalikan impor. (Lp6/p)

Editor: J. Marbun
loading...
Share on Google Plus

Tentang Redaksi Partukkoan

Partukkoan.com merupakan Situs Online yang dikelola untuk memberikan Informasi yang akurat dan terpercaya di sekitar Wilayah Tapanuli dan Bonapasogit, partukkoan.com adalah kompasnya orang batak.
    Facebook Comment