Tren FaceApp Challenge Buat Wajah Menjadi Tua Ternyata Beresiko

Ilustrasi | Kolase foto ini tidak menggunakan FaceApp Challenge. Gambar merupakan gabungan foto antara penggemar dan Sang Aktor
Partukkoan

JAKARTA - FaceApp yang pernah viral kini kembali menjadi tren. Pengguna media sosial yang menggunakan fitur ini diberi keluasan untuk mengedit atau mengubah wajah penggunanya menjadi lebih tua.

Pantauan partukkoan, banyak pengguna facebook yang menggunakan fitur tersebut kemudian memposting ke media sosial miliknya.

Namun perlu diketahui, menggunakan FaceApp Challenge ternyata memiliki resiko. Hal itu diutarakan Koordinator Regional SAFEnet dan Pengamat Media Sosial, Damar Juniarto.

Melansir okezone, Jumat (19/07/2019), Damar Juniarto mengatakan, pengguna media sosial harus waspada dengan challange semacam ini.

"Banyak orang tidak menyadari apa bahayanya dari challenge atau kuis di Facebook, aplikasi dan website. Hal tersebut karena beberapa pengguna memang belum merasakan dampaknya sekarang secara langsung. Karena saat melakukannya, rasanya cuma senang saja, seru karena sedang trending," terang dia dalam keterangan resminya, Jumat (19/7/2019).

Terkait identitas katanya, sudah bukan lagi sidik jari saja, akan tetapi tetapi sudah bergeser ke facial recognition, daftar pertemanan, dan rekam jejak digital yang menggambarkan tingkah laku pengguna media sosial.

"Challenge FaceApp itu sebenarnya apakah hanya memberi foto kita saat tua? Ternyata kan tidak, ia mampu membaca biometrik wajah dan memberi gambaran masa depan yang menyesuaikan pada wajah yang sekarang. Data-data ini disimpan oleh pembuat aplikasi dan disimpan dalam repositorynya," ungkapnya.

Pada saat mengaktifkan aplikasi pengguna juga diminta untuk membuka akses ke data nomer kontak telepon, folder gambar, dan dokumen. Bahkan, Damar mengatakan jika informasi pribadi lain akan ikut disimpan dalam repository tersebut.

"Apa saja yang disimpan dalam smartphone kita, rasanya hampir banyak hal, semisal akses ke e-banking, akses ke email, nomer telepon keluarga, teman, sahabat. Itu semua bila dimiliki oleh orang lain tanpa kita ketahui jelas akan punya resiko," terangnya.

"Kalau kita membiarkan, itu sama saja membiarkan rumah terbuka lebar di tengah malam tanpa dikunci sehingga maling bebas keluar masuk sesukanya," tambah Damar.

Untuk itu Damar mengatakan, agar terhindar dari pencurian data adalah dengan kewaspadaan. Menurutnya, di balik semua hal yang trending di media sosial, pengguna juga harus tetap hati-hati jika ada permintaan akses saat menginstal aplikasi atau bermain game.

"Jangan berikan akses ke hal-hal yang sifatnya pribadi dan rahasia yang ada di smartphone kita. Berikan akses hanya yang berkaitan saja untuk kepentingan aplikasi tersebut. Kalau nantinya sudah bosan dengan aplikasi tersebut, langsung saja di-uninstal. Atau sedari sekarang semisal khawatir aplikasi tersebut sudah terlanjur mengambil informasi diri tanpa diketahui, langsung saja di-uninstal dan dihapus dari smartphone kita," katanya.

Lebih jauh, Ia menyebutkan jika saat ini Pemerintah sedang membahas Rancangan Undang-undang Perlindungan Data Pribadi. Adapun, draft rancangan tersebut terakhir disusun bulan April 2019.

Draft itu kata Damar, lebih banyak mengacu pada data pribadi dalam konteks komoditi (ekonomi).

"Saya merasa sebaiknya perlindungan data pribadi juga banyak berfokus pada sisi keamanan bagi seseorang dalam mengakses internet. Mengapa demikian? Karena data pribadi ini sebenarnya terkait dengan jati diri seseorang, sehingga aspek kemanusiaan yang virtual itu harus juga dilindungi," terang Damar. (Okz/P)

Loading...
Share on Google Plus

Tentang Admin Lima

Partukkoan.com merupakan Situs Online yang dikelola untuk memberikan Informasi yang akurat dan terpercaya di sekitar Wilayah Tapanuli dan Bonapasogit, partukkoan.com adalah kompasnya orang batak.
    Facebook Comment